Dahlan
Iskan membangun kerajaan bisnis Jawa Pos dengan kerja keras luar
biasa. Bahkan, beberapa kalangan menilai Grup Jawa Pos menggurita
karena sikap one man show Dahlan. Toh, kalangan dekatnya
justru mengaku banyak melihat keteladanan yang begitu nyata
diperlihatkan Dahlan dalam keseharian. Apa saja itu?
Dahlan
Iskan sudah lama tak berkantor di Graha Pena, Surabaya. Namun,
semangat, disiplin, kerja keras, kesederhanaan yang dimiliki Dahlan
tertancap kuat di seantero kantor Jawa Pos yang membentang dari Sabang
sampai Merauke. Jejak keberhasilan Dahlan bukan saja terukir dari
pencapaian Jawa Pos yang menjelma menjadi konglomerasi bisnis media
dengan sekitar 120 media cetak dan 20-an stasiun televisi lokal yang
terserak di berbagai wilayah Nusantara, 40 jaringan percetakan, pabrik
kertas, power plant, perminyakan, agrisbisnis, dan properti.
Dahlan juga mewariskan sebuah keteladanan. Teladan tentang
kesederhanaan, kerja keras, dan logika akal sehat sehingga melahirkan
budaya bersikap, budaya berpikir, budaya bekerja pada segenap awak Grup
Jawa Pos (GJP) sehingga grup usaha ini terbang sangat tinggi.
Di bawah kendali peraih penghargaan Enterpreneur of the Year 2001
dari Ernst & Young yang dilahirkan di Magetan 17 Juli 1951 ini,
gurita bisnis GJP merentang seantero Nusantara. Aset GJP ditaksir
mencapai triliunan rupiah dengan omset sekitar Rp 2 triliun.
Keberhasilan
Dahlan dinilai banyak kalangan karena memiliki keberanian mengambil
risiko yang terukur dan kerja keras, serta kepiawaian membaca peluang.
Dan, Dahlan konsisten dengan sikapnya. Kini, sebagai komandan PLN, di
minggu pertama berkantor di Trunojoyo, ia sudah langsung memperlihatkan
taringnya dengan mengganti sumber energi primer dan menyediakan trafo
cadangan untuk keperluan distribusi listrik sebagai upaya menghemat
beban subsidi sebesar Rp 5 triliun tiap tahun. Ia juga memangkas jalur
birokrasi dan membenahi struktur organisasi. Dan, seperti juga di Jawa
Pos, ia selalu memberi teladan disiplin waktu dan kesederhanaan. Pukul
6.45 ia sudah tiba di kantor. Rapat direksi pun diubah menjadi pukul
7.00. Ia juga biasa makan di kantin karyawan dan seminggu sekali suntik
imunisasi hepatitis B di Poliklinik PLN.
Tak
ada yang berubah dari seorang Dahlan. Yang berubah hanya
penampilannya. Dulu, sebagai CEO GJP ia kerap terlihat berkemeja
panjang gombrong dengan sepatu kets membungkus kakinya. Kini, ia lebih
terlihat perlente dengan setelan jas. Bagaimana ia mewariskan wisdom strategi bisnisnya sehingga GJP tetap melaju kencang meski ayah Azrul Ananda dan Isna Fitriana ini tak lagi ikut cawe-cawe? Berikut petikan wawancara SWA dengan Dahlan Iskan:
Bagaimana perasaan Anda meninggalkan Jawa Pos?
Sekarang, posisi saya Chairman
Grup Jawa Pos. Benang merah yang harus dipahami oleh seluruh pemimpin
di Grup Jawa Pos adalah harus percaya bahwa di setiap zaman itu punya
generasinya tersendiri, dan setiap generasi itu punya zamannya
tersendiri. Nah, agar bisa lintas generasi alias bisa diterima di setiap
generasi, pahamilah hal tersebut lebih dulu dengan sikap mau menerima,
berpikiran terbuka, dan fleksibel. Kalau tidak paham akan hal
tersebut, jangan coba-coba bisa menjadi pemimpin. Jadi, pahamilah
setiap zaman itu pasti ada bedanya dan pelakunya. Jangan pernah ngotot
untuk bisa terus memimpin di zaman yang sudah bukan zamannya lagi.
Sesungguhnya, itu sama saja omong kosong. Saya saja menyadari kalau
sudah bukan zaman saya lagi memimpin dengan tipikal dan cara saya di
zaman sekarang. Sudah saatnya alih generasi. Saya legowo akan hal ini.
Sekarang Azrul ikut di Jawa Pos. Pendapat Anda?
Ya, begitulah.
Azrul jadi pemimpin Grup Jawa Pos?
Hmmm…
sebenarnya saya tidak pernah bercita-cita dan menginginkan Azrul
bergabung dan bahkan menjadi pemimpin di Grup Jawa Pos. Saya lebih
senang dia menjadi profesional atau menjadi sesuatu yang dia inginkan.
Saya tidak mau dia menderita seperti saya. Apa sih kayanya jadi
wartawan itu? Makanya, sejak lulus SMP, dia saya sekolahkan ke Amerika
Serikat supaya jauh dari â€Å“bau tintaâ€. Di AS kan dia lebih punya
banyak pilihan. Saya menyadari sepenuhnya sejak dini kalau saya memang
tidak mau menyiapkan Azrul sebagai pemimpin di Grup Jawa Pos. Saya tidak
mau dikecam dan anak saya dikecam karena tindakan nepotisme itu.
Namun, akhirnya Azrul masuk juga di Jawa Pos …
Sepulang dia dari Kansas, AS, tahun 1999, sebagai master international marketing, dia datang kepada saya meminta bekerja di koran Jawa Pos. Saat itu saya masih menjadi Dirut Jawa Pos. Saya jawab saja, gak mungkin
kamu bisa kerja di sini. Azrul heran dengan pernyataan saya itu, lalu
dia membalas pernyataan saya kalau dia tidak dibolehkan kerja di Jawa Pos, dia akan bekerja di Kompas. Waduh bingung kan saya dan saya merasa dipojokkan dengan pernyataan Azrul yang mau kerja di Kompas kalau tidak diizinkan bergabung dengan Jawa Pos. Saya berada di posisi sulit. Paling sulit dalam kehidupan saya. Saya diskusikan dengan kawan-kawan petinggi Jawa Pos. Saya tahu hal ini bertentangan dengan hati nurani saya, dan melanggar prinsip manajemen.
Bagi saya, sangat sulit memutuskan menerima Azrul bekerja di Jawa Pos. Saya tahu saya sudah berupaya menjauhkan Azrul sedemikian rupa dari bau tinta Jawa Pos, tapi kalau ternyata dia masih mau dan memilih untuk dekat dengan bau tintanya Jawa Pos, saya anggap itu sudah takdir Azrul. Bahwa akhirnya dia ada di Jawa Pos, ya takdir Azrul. Sampai-sampai saya membujuk dia untuk bergabung di JTV saja dulu, biarpun bukan koran Jawa Pos, kan masih Grup Jawa Pos. Tapi dia tetap tidak mau dan tetap ingin masuk di koran Jawa Pos. Akhirnya, ya iyalah, daripada di Kompas karena gak enak kan, masa kerja di kompetitor. Apalagi Azrul sangat optimistis dan percaya diri kalau dia bisa diterima di Kompas dengan background
pendidikan formal dan pengalaman jurnalistiknya di koran orang tua
angkatnya waktu tinggal di Kansas. Dia pun sering menjadi koresponden
luar negeri Jawa Pos. Saat itu, memang dia diizinkan menjadi koresponden Jawa Pos karena tidak ada ikatan karyawan.
Bagaimana prosesnya?
Azrul memulai sebagai wartawan. Ketika diterima bekerja di Jawa Pos, dia juga harus menjadi reporter lebih dulu biarpun dia pernah menjadi koresponden Jawa Pos selama tiga tahun. Selama setahun, dia menjadi reporter dan ditempatkan di Surabaya. Kemudian menjadi redaktur untuk desk olah raga setahun, redaktur desk kota setahun, lalu redaktur anak muda satu tahun, terus redaktur halaman 1 satu tahun. Setelah proses itu baru deh dia menjadi pemred selama dua tahun. Jadi, kata siapa dia dengan mudahnya begitu saja diterima jadi wartawan Jawa Pos. Apalagi dia juga mendapat penilaian yang sama seperti wartawan Jawa Pos lainnya karena ada sistem penilaian yang harus dipatuhi.
Bagaimana meminimalkan kesan nepotisme?
Apa
yang saya lakukan untuk meminimalkan kesan nepotisme antara saya
dengan anak saya? Pertama, ya Azrul harus mau memulainya lagi dari
posisi terbawah meski dia punya pengalaman jurnalistik di tempat lain.
Kedua, dia juga punya nilai lebih baik dari kawan-kawan selevelnya
bahkan dari kawan-kawan di Jawa Pos. Dan, dia dinilai oleh sekelilingnya. Kalau rata-rata orang terbaik saya di Jawa Pos itu
nilainya 7,5, nilai Azrul harus lebih dari 7,5 itu. Misalnya hasil
penilaian Azrul itu juga 7,5 atau 8, maka saya tidak akan memilih Azrul.
Saya lebih baik memilih karyawan Jawa Pos yang bukan anak
saya yang punya nilai sama dengan Azrul untuk menjadi pemimpin.
Artinya, Azrul harus bisa menunjukkan kemampuan yang lebih dari
rata-rata nilai karyawan-karyawan terbaik saya.
Bagaimana proses penilaiannya?
Untuk
menilai prestasi seseorang di koran kan mudah. Ketika dia jadi
reporter, berita-berita hebat seperti apa yang sudah dia berhasil cover dan tembus. Kemudian, ketika dia menjadi redaktur, dilihat bagaimana isi halaman desk yang menjadi tanggung jawabnya. Ketika dia jadi redaktur pun, akan terlihat bagaimana relationship-nya dengan wartawan lain di Jawa Pos dan
dengan wartawan dari media-media lain. Berita-beritanya berbobot dan
netral atau tidak. Apalagi ketika dia menjadi pemred, termasuk
terobosan-terobosan yang bisa dia lakukan yang akhirnya berujung pada
peningkatan penjualan atau tiras dan pendapatan di samping konten koran
itu sendiri.
Akhirnya Anda memutuskan Azrul menjadi pengganti Anda?
Saya
memutuskannya menjadi pemred ketika Azrul membuat terobosan-terobosan
seperti dia melahirkan konsep DetEksi yang berpengaruh pada peningkatan
tiras, citra, dan penjualan Jawa Pos. Dia punya ide kreatif dan berhasil diwujudkannya. Ketika dia menjadi redaktur kota, dia berhasil mengubah tampilan halaman desk kota menjadi sangat metropolis sehingga Jawa Pos semakin
dikenal bukan hanya sebagai koran lokal dari Surabaya. Ketika dia
menjadi redaktur olah raga, dia melahirkan konsep sportivo. Ketika dia
menjadi redaktur halaman 1 dan saat itu ada bom Bali, dia berhasil
membuat liputan yang deep mengulas tentang bom Bali. Dan,
pastinya, keberhasilan Azrul itu bukan hanya prestasi Azrul karena dia
punya tim biarpun ide itu berasal dari dia. Ketika Azrul ditetapkan
menjadi Pemimpin Umum setara Dirut Jawa Pos, Azrul dua poin
lebih unggul dari kandidat yang lain. Jadi, bukan semata-mata dia anak
saya. Toh, Azrul pun saat menjadi dirut pernah saya pecat.
Mengapa?
Sebetulnya, pemecatan Azrul itu tidak terkait dengan pekerjaan dan posisi Azrul di Jawa Pos.
Ada urusan pribadi, yang tidak ada hubungannya dengan Grup Jawa Pos
sama sekali, Azrul saya berhentikan sementara. Kalau dia orang lain,
mungkin tidak akan diberhentikan karena masalah itu baru hanya rumor
belaka. Nah, karena Azrul anak saya, saya putuskan untuk diberhentikan
sampai penyelidikan atas kebenaran rumor tersebut. Ternyata setelah
penyelidikan yang berlangsung 6 bulan, itu hanya rumor, dan kawan-kawan
di Jawa Pos meminta Azrul kembali. Saya perhatikan selama 6 bulan nganggur dari Jawa Pos itu, Azrul tidak bersikap negatif. Dia tetap meliput dan menulis serta mengirimkan tulisannya dari luar kantor Jawa Pos. Dia tidak berkantor selama penyelidikan berlangsung. Kan bisa saja dia ngambek, namanya anak muda, wong gak salah kok, cuma rumor, dia diberhentikan. Dia bisa saja menuntut hal tersebut pada saya. Tapi, sepertinya dia gak beban dalam menghadapi cobaan itu.
Hikmah
saya berobat, saya bisa lebih rileks dan perusahaan baik-baik saja.
Sakitnya saya juga yang membuat saya berpikir untuk melepaskan semua
jabatan saya.
Ketika
Azrul menjadi Kepala Pemasaran dan Produksi, sistem pemasaran dan
produksi koran jadi lebih sistematis. Dengan kata lain, Azrul jauh lebih
sistematis, efisien dan efekif. Dan, saya rasa memang sudah saatnya
Grup Jawa Pos itu berubah, dari yang awalnya di masa saya yang bisa
disebut kelompok perintis itu banyak menggunakan pendekatan personal.
Nah, di zaman Azrul dan anak-anak yang lebih muda lagi, Grup Jawa Pos
sudah mulai dikelola dengan sistem yang rapi, tertib, tertulis, dan
akuntabel. Ya kalau kata orang pintar, lebih GCG-lah (Good Corporate Governance – Red.) dan lebih terstruktur. Tapi, sifat egaliternya dan sederhana dalam berpakaian yang kasual itu juga nurun dari saya, padahal saya tidak pernah mengajarinya begitu.
Apa harapan Anda pada kepemimpinan Azrul?
Kelebihan
Grup Jawa Pos di bawah kepemimpinan yang sekarang, kalau saya
perhatikan, lebih sistematis dan metodologis. Azrul berada di dalam era
kepemimpinan yang sekarang. Nah, yang saya harapkan dari Azrul itu
lebih memahami perhitungan akuntasi keuangan perusahaan dengan cara
belajar lagi.
Bagaimana dengan putri Anda, mengapa tidak bergabung?
Anak
saya yang lain yang bernama Isna itu memang benar-benar tidak
bergabung dalam bisnis keluarga. Isna punya perusahaan sendiri, butik
atau toko pakaian. Kalau tidak salah ada tiga butik. Dia juga punya
bisnis penyewaan peralatan musik dan sound system. Isna sih boro-boro punya passion bergabung dengan Grup Jawa Pos.
Bagaimana Anda mendidik putra-putri Anda, dalam kehidupan ataupun bisnis?
Saya
tidak pernah menasihati anak-anak secara langsung. Tidak pernah
mengarahkan mereka harus seperti apa. Tidak. Saya biarkan mereka
berpikir dan berbuat sesuai dengan keinginan mereka. Sepanjang hidup
saya sampai sekarang, saya hanya bicara dua kali tentang wisdom pada anak saya. Itu pun saya sampaikan dengan bercerita.
Pada kesempatan pertama, saya ceritakan pada mereka tentang Surabaya Post. Ini koran sangat besar pada masa itu. Bahkan Jawa Pos tidak
ada apa-apanya. Saya bilang kerajaan ini runtuh karena tidak ada yang
mau melanjutkan. Anaknya yang pertama, Iwan Jaya Aziz, terlalu pandai.
Tiap kali disuruh pulang selalu menolak, karena di kampusnya pangkat
dia selalu naik. Dia juga menjadi tokoh ekonomi yang besar. Anaknya
yang kedua di Jakarta, menjadi psikolog. Sementara anaknya yang ketiga
tukang menghabiskan uang. Kerajaan Surabaya Post runtuh karena tidak ada yang melanjutkan.
Saya
menyampaikan ini bukan bermaksud memengaruhi mereka. Biar saja mereka
yang memutuskan. Tetapi saya mau menunjukkan kalau ada kasus seperti
ini.
Lalu,
saat anak saya lulus dari SMA di Kansas, AS. Waktu itu saya undang
mereka berdua untuk makan malam sangat spesial. Saya katakan kalau saya
mau berterima kasih kepada mereka. Saya katakan kepada mereka, saya
undang Anda makan karena ingin berterima kasih. Karena, selama ini Anda
tidak merepotkan saya. Seandainya Anda terlibat narkoba, tentu saya
harus berurusan dengan polisi. Saya juga tidak bisa bekerja. Kalau Anda
terjerat narkoba mungkin saya juga akan â€Å“habisâ€. Kedua, Anda tidak
menghamili anak orang. Tidak menyakiti cewek lain. Saya katakan seperti
itu kepada anak-anak saya. Saya ingin dengan bercerita, tidak secara
langsung mengarahkan anak-anak. Mereka juga akan merasa kalau apa yang
mereka lakukan selalu saya perhatikan.
Bagaimana Anda melihat kehidupan?
Saya
melihat orang tua saya bekerja terlalu keras. Jadi mungkin secara
tidak sadar saya melihat orang hidup ya seperti itu. Misalnya, bapak
saya habis sembahyang Subuh terus ke pekarangan. Jam 7 dia berangkat
menjadi tukang kayu. Lalu pulang sembahyang Dzuhur, ke pekarangan lagi.
Selanjutnya kembali nukang kayu. Dan setelah sembahyang Isya,
dia ke pekarangan orang lain untuk menjaga air dan sebagainya. Nah,
secara tidak sadar saya menilai bapak bekerja terlalu keras. Dan ini
menginspirasi saya dalam menjalani kehidupan. Saya percaya pada hidup.
Itu saya istilahkan sunatullah, bahwa orang mau dapat itu harus kerja. Kalau mau sukses harus kerja keras.
Seberapa sering Anda gagal?
Pertanyaan menarik. Karena saya lebih senang bicara soal kegagalan. Sebab orang kalau sudah sukses, ngomong apa saja enak. Sebenarnya ini tidak fair.
Saya sering diminta mengisi seminar untuk berbicara sukses saya. Saya
merasa tidak begitu-begitu juga. Karena, saya mengalami kegagalan juga
banyak banget. Tapi saya tidak pernah diundang seminar dengan topik
kisah-kisah kegagalan Dahlan Iskan.
Padahal, kegagalan saya banyak sekali. Misalnya, provider Internet.
Saat belum banyak orang masuk Internet, saya masuk duluan. Karena
terlalu dini kami masuk ke bisnis itu, ya kami gagal. Koran ada juga
beberapa yang gagal. Real estate, saya gagal. Kemudian masuk ke
hotel, saya gagal. Properti saya gagal. Saya kira kalau Rp 5 miliar
saja kegagalan saya itu ada. Tetapi karena banyak yang berhasil, orang
lantas menilai Dahlan Iskan itu orang yang bertangan dingin. Apa saja
yang dia pegang pasti jadi. Itu sama sekali tidak betul.
Tip supaya sukses dalam berbisnis?
Ketika memulai bisnis, ketika mau memulai harus tahu apa escape
yang harus dilakukan kalau menghadapi masalah yang berbahaya.
Misalnya, rugi Rp 10 miliar masih lebih baik daripada rugi Rp 15
miliar. Rugi Rp 15 miliar harus lebih baik ketimbang rugi Rp 20 miliar.
Itu harus menjadi pegangan. Nah, ketika sudah rugi-rugi-rugi dan
sesudah dianalisis investasinya ini akan rugi terus, ya berhenti.
Banyak
orang yang tidak berani berhenti. Wah, kita kan sudah rugi Rp 10
miliar. Kenapa harus berhenti? Ah, tidak boleh seperti itu. Kalau memang
diperkirakan tidak tertangani harus berhenti. Jangan bilang, sayang
kan sudah habis Rp 10 miliar. Harus berani bilang, mumpung masih Rp 10
miliar, harus berhenti.
Kalau mau sukses, harus jalani apa yang ada. Mulai dari kecil, sekarang, jangan nunggu
nanti-nanti. Fokus. Jangan berpikir ingin cepat besar. Yang penting
tekuni dahulu sampai batas waktu tertentu, baru mengembangkan diri.
Nilai-nilai bisnis apa yang Anda pegang?
Banyak orang salah sangka memandang Dahlan Iskan. Orang berpikir kalau saya punya grand plan.
Menurut saya tidak. Saya ini benar-benar seperti air yang mengalir,
tetapi kalau bisa yang deras. Jangan air yang mengalir tapi biasa saja.
Karena apa? Saya pikir saya ini tidak punya cita-cita. Hahahaha…. Tapi
setelah saya rasa-rasakan, beruntung juga tidak punya cita-cita. Hehe…
Kenapa? Karena tidak terlalu mempertaruhkan segala sesuatu untuk
mewujudkan cita-cita itu.
Orang
yang tidak punya cita-cita lebih fleksibel. Bayangkan misalnya saya
harus sampai di sana, dan itu harus tercapai. Lalu di depan sana
tiba-tiba ada dinding. Kalau orang yang punya cita-cita keras, dia akan
tabrak dinding itu. Iya kalau dindingnya kalah. Lha kalau dindingnya
terlalu kuat? Mati dia.
Tapi kalau orang yang gak punya cita-cita, bilang wah di depan ada dinding. Ya belok aja. Misalnya di sana ada batu, ya belok aja. Jadi saya merasa tidak punya cita-cita itu ya bagus juga. Hahahaa…. Ini saya serius. Tidak mengada-ada.
Cita-cita tertinggi Anda, apa?
Hahahaha… Cita-cita tertinggi saya cuma satu: pengen punya
sepeda! Itu saja. Bahwa sekarang punya helikopter, punya Jaguar, punya
Mercy itu sama sekali di luar cita-cita saya. Cita-cita saya cuma
punya sepeda. Kenapa? Karena saya anaknya buruh tani. Saya tidak boleh
latihan naik sepeda. Berarti saya harus meminjam sepeda teman. Bapak
saya bilang, â€Å“Kalau nanti sepedanya rusak, bagaimana cara
menggantinya?†Jadi sampai saya tamat SMA, saya belum punya sepeda.
Saya sekolah jalan kaki pergi-pulang 12 km. Teman saya yang punya
sepeda tidak pernah mau memboncengkan saya. Katanya, orang yang tidak
bisa naik sepeda lebih berat kalau diboncengkan.
Keinginan Anda yang belum tercapai?
Saya
sudah tidak punya keinginan apa-apa lagi. Karena sejak saya sakit,
kemudian perusahaan ditangani oleh anak saya. Dan selama saya tinggal
tetap berkembang, berarti ya sudah boleh ditinggal. Sebelum saya
dioperasi, saya kan membeli dua helikopter. Karena perasaan saya,
setelah sembuh pasti tidak bisa ke mana-mana. Jadi bisa naik helikopter.
Tapi ternyata setelah operasi saya seperti begini. Ya akhirnya
helikopter itu nganggur. Makanya ketika saya dipanggil Presiden untuk menjadi Dirut PLN, ya sudahlah, ada kesibukan baru.
Nilai dalam kehidupan yang Anda pegang?
Saya
percaya takdir. Tetapi takdir yang diusahakan. Jadi saya tidak percaya
takdir begitu saja. Misalnya begini. Ada seorang wartawan foto Jawa Pos yang
jadi juara foto internasional. Foto itu tentang tergulingnya truk
suporter sepak bola. Orang-orang bilang, â€Å“Itu kebetulan karena si
fotografer ada di situ, terus motret.†Nah saya tidak setuju
dengan omongan seperti itu. Memang kebetulan dia ada di situ. Tapi
seandainya hari itu si wartawan ada di kantor, atau males-malesan di rumah, apa ya dia dapat momen itu? Dia dapat foto terbaik dunia itu karena dia rajin.
Siapa tokoh idola Anda?
Saya
senang Eka Tjipta Widjaja. Dia pernah bangkrut tiga kali. Bangkrut
habis-habisan dan selalu bisa bangkit dengan hebat. Sebelum saya sakit,
saya nanya ke beliau, â€Å“Pak Eka, Anda kebayang nggak akan
bangkrut?†Lalu dia bilang, â€Å“Dik Dahlan, saya ini sudah dalam
posisi tidak mungkin bangkrut. Saya sudah terlalu besar untuk
bangkrut.â€
Saya juga senang Ciputra karena menjalankan prinsip bisnis yang fair.
Moralitas bisnis beliau juga sangat tinggi. Saya salut sekali dengan
Pak Ciputra. Lalu, kerendahan Anthony Salim juga membuat saya kagum.
Ketiga tokoh ini mungkin yang banyak menginspirasi perjalanan hidup dan
bisnis saya.
BOKS:
Azrul Ananda:
Di Luar Jawa Pos,
Mungkin Lebih Enak
Perjalanan
Azrul Ananda yang akrab disapa Ulik ini di GJP tak berarti mulus
karena ia anak Dahlan Iskan. Apalagi, sejak awal Dahlan tak ingin putra
semata wayangnya mengikuti jejaknya sebagai kuli tinta. Dahlan juga
tak pernah berpikir mewariskan kerajaan bisnis GJP kepada anak
sulungnya itu. Namun, bagi Ulik, GJP adalah muaranya untuk
beraktualisasi.
Maka,
Ulik pun rela mengikuti aturan main yang diterapkan sang ayah. Ia rela
memulai karier di GJP dari posisi bawah. Ia juga menjawab tantangan
Dahlan yang mensyaratkan nilai 9 baginya dengan kerja keras,
kreativitas, dan inovasi untuk melahirkan produk yang membuat Jawa Pos makin moncer. Dari tangan alumni California State University jurusan pemasaran yang lulus cum laude ini lahir halaman DetEksi, seksi khusus anak muda yang dalam tempo singkat menjadi andalan Jawa Pos sampai sekarang. Kelahiran Samarinda tahun 1977 ini pun membuktikan kehebatannya yang lain. Saat menjadi Pemred Jawa Pos, koran itu berlari makin kencang dan kerap diganjar berbagai penghargaan, antara lain Cakram Award (Newspaper of the Year) 2005.
Berikut petikan SWA dengan Azrul Ananda yang kini COO Jawa Pos.
Apa saja nilai-nilai dalam bisnis dan kehidupan yang Anda pelajari dari ayahanda?
Abah,
(begitu Azrul memanggil Dahlan Iskan) dari dulu selalu mengajari saya:
bekerja, dan bekerja secara fokus dan serius tanpa terlalu memikirkan
apa yang akan didapat. Jangan terlalu perhitungan. Katanya, kalau kita
kerja keras dan fokus, hasil baik akan datang dengan sendirinya. Sejauh
ini, semua itu menjadi kenyataan.
Bagaimana
Anda mengimplementasi nilai-nilai itu dalam aktivitas bisnis dan
kehidupan? Adakah nilai yang direaktualisasi – disesuaikan dengan
kondisi masa kini?
Dari
dulu, apa pun yang saya lakukan, selalu dilakukan dengan serius. Kalau
pun gagal, prosesnya selalu serius. Paling tidak, ada pelajaran yang
selalu kita dapat dengan menjalani proses secara serius. Bedanya cara
dia dengan saya sekarang? Hmmm, sekarang lebih sulit dan kompetitif,
jadi kerjaan saya pasti lebih susah dari dia dulu. Hahahaha. Tidaklah, dulu dan sekarang sama sulit, tapi sulitnya beda.
Adakah perbedaan chemistry dalam memandang nilai-nilai itu antara Anda dengan ayah Anda?
Saya tidak persis dengan Abah. Dia punya satu cara, saya mungkin cara lain. Kadang kami pun berantem
teriak-teriakan. Hahahaha. Tapi hebatnya Abah, dia selalu memberi saya
kebebasan dalam berbuat. Kalau pun saya salah, dia akan membiarkan
saya membuat kesalahan. Toh akhirnya akan belajar juga hahaha.
Dalam pandangan Anda, apa saja kehebatan yang dimiliki Pak Dahlan sebagai ayah sekaligus entrepreneur?
Dia
itu orangnya serius dan konsekuen. Kalau mau sesuatu, akan diusahakan
sampai dapat. Tapi dengan cara yang benar. Tidak dengan jalan pintas.
Kalau harus bersusah payah naik gunung, ya akan bersusah payah naik
gunung. Tidak buru-buru cari helikopter biar gampang. Memang
cara-caranya kadang lebih susah, tapi jangka panjangnya akan lebih baik.
Bagaimana Anda dididik oleh ayah Anda? Apa yang diinginkan ayah Anda terhadap anak-anaknya?
Entahlah. Hahaha. Kayaknya dia dulu nggak pengen saya masuk koran. Tapi akhirnya kecemplung
juga di dunia media. Yang jelas, dia ingin kami sukses dengan kerja
keras, bukan dengan cara karbitan. Dia selalu mengingatkan, kalau nilai
saya 7 maka lebih baik memakai orang lain. Kalau nilai saya 8, dan ada
orang lain nilainya 7 maka lebih baik pakai orang lain. Jadi, mau tidak
mau saya harus menang jauh dari yang lain, harus punya nilai 9 atau
10. Karena kalau saya biasa-biasa saja, orang akan menilai saya sukses
karena ayah saya.
Kenapa Anda punya passion yang tinggi terhadap olah raga basket?
Sebenarnya
olah raga favorit saya bukan basket. Saya ini pemain bola, dan olah
raga terbaik saya bulu tangkis. Saya dulu tergabung dengan klub Djarum
selama tiga tahun, waktu SD sampai SMP. Tapi ketika jadi siswa
pertukaran di Ellinwood High School di Kansas tahun 1993-1994, saya ikut
koran sekolah dan jadi fotografer tim basket. Dari situ belajar sistem
basket SMA di Amerika. Sejak saat itu mulai perhatian pada basket.
Belum penggemar, tapi mulai mengikuti.
Keterlibatan di basket juga tidak direncanakan. Pada 2004, untuk menambah aktivitas anak muda di bawah bendera DetEksi Jawa Pos (halaman
khusus anak muda), kami spontan bikin kompetisi basket SMA di
Surabaya. Ternyata langsung meledak. Terus berkembang, dan kemudian
berkembang jadi Development Basketball League (DBL) yang sekarang.
Mengapa meledak? Mungkin karena konsepnya disukai ya. Kami menerapkan konsep student athlete,
kalau tidak naik kelas tidak boleh ikut. Sekolah dan orang tua suka
itu. Lalu kami juga ketat menerapkan aturan-aturan di lapangan, jadi
pemain dan penonton merasa lebih spesial. Juga tidak menerima sponsor
rokok, minuman berenergi, dan minuman beralkohol. Kami konsekuen hingga
sekarang.
Untuk kompetisi bola basket pelajar tahun lalu, berapa banyak peserta dan penontonnya? Tahun ini, apa targetnya?
Honda
DBL 2010 ini diselenggarakan di 21 kota, di 18 provinsi. Mulai Aceh
sampai Papua, kecuali Jakarta. Kami berhasil membuktikan bahwa kompetisi
terbesar di Indonesia tidak harus di Jakarta. Total tim peserta hampir
1.200 tim SMP dan SMA, dengan jumlah pemain dan official
hampir 25 ribu orang. Besar sekali ya! Simulasi kami, seharusnya jumlah
penonton mencapai 500 ribu orang. Tercapai kira-kira awal Agustus 2010
nanti. Kalau terwujud, Honda DBL 2010 adalah kompetisi olah raga
terbesar kedua di Indonesia, setelah liga sepak bola nasional. Hebat ya?
Targetnya
sekarang, mengejar 500 ribu penonton itu. Seharusnya bisa. Dan ingat,
pertandingan kami bukan tontonan gratis. Kami dari awal mengajarkan
penonton untuk apresiasi dan membayar. Target ke depan, terus
mengembangkan konsep student athlete kami ke seluruh provinsi di Indonesia.
Apa dream Anda terhadap olah raga basket di Indonesia? Akan Anda jadikan seperti apa DBL dalam 5-10 tahun ke depan?
Terus
terang, kami tak pernah membayangkan DBL menjadi sebesar ini. Saking
besarnya, sejak 2009 kami harus mendirikan perusahaan sendiri untuk
mengelola DBL secara full time. Namanya PT Deteksi Basket Lintas Indonesia (DBL Indonesia) karena untuk menjaga dan mengembangkan, butuh tim yang bekerja full time. Sekarang karyawan DBL Indonesia sudah lebih dari 50 orang.
Bukan
hanya mengelola liga pelajar DBL, mulai tahun ini DBL Indonesia juga
dipercaya mengelola liga basket profesional tertinggi di Indonesia,
yaitu Indonesian Basketball League (IBL). Pada 25 Mei 2010, liga itu
kami rebranding menjadi National Basketball League (NBL) Indonesia. Semoga jadi seheboh DBL.
Dalam
5-10 tahun ke depan, semoga DBL bisa merambah seluruh Indonesia.
Menyelenggarakan kompetisi basket dengan standar tertinggi di Indonesia.
Selain itu, juga terus membina kerja sama internasional. Gunanya untuk
meningkatkan hubungan people-to-people antara anak muda
Indonesia dengan mancanegara. Sekarang kami sudah menjalin itu dengan
Amerika Serikat dan Australia. Untuk mencapai itu, DBL harus tumbuh
secara berkelanjutan. Tidak boleh terlalu tergantung pada sponsor.
Ke depan, revenue sponsor maksimum hanya boleh 65%. Sisanya harus dari tiket penonton, merchandising, licensing, dan lain-lain. Kami sedang merintis itu sekarang. Merchandise
DBL sudah bisa didapat di mal-mal di Indonesia, termasuk di Jakarta.
Buku tulis sekolah DBL pun sekarang sudah dijual di mana-mana. Jangan
lupa pula, semakin besar DBL dan NBL, semakin besar pula dampaknya untuk
media-media di bawah Grup Jawa Pos.
Anda sepertinya menikmati sekali di Jawa Pos?
Saya sebenarnya tidak perlu ada di Jawa Pos untuk hidup enak. Di luar Jawa Pos
mungkin lebih enak. Tidak capek, tetap dapat bagian banyak dari orang
tua. Bahkan lebih banyak dari kebanyakan karyawan. Karena itulah,
ketika benar-benar di Jawa Pos, saya harus sadar kalau saya
punya tanggung jawab sangat besar. Tidak boleh main-main. Saya nyaris
tak pernah libur. Dari pagi sampai malam saya di kantor. Meski kadang
juga hanya bengong doang hahaha.
sumber