Tok,
tok, tok! “Assalaamu’alaikum..” sapaku seraya mengetuk pintu. Kulihat
jam tanganku menunjukkan pukul 22.40 WIB. Sejenak kuhelakan nafas
panjang menghirup udara malam itu. Sekadar melepas penat setelah lelah
bekerja shift 2 hari itu.
Tok, tok, tok! “Assalaamu’alaikum..” kuulang salam dan ketukan pada daun pintu. Berharap istriku masih terjaga dan segera menyahut salamku lalu membukakan pintu. Tapi tak ada jawaban dari istriku, wanita pilihan Allah yang sudah 4 bulan mengandung anak pertamaku.
Tok, tok, tok! “Assalaamu’alaikum..”. Hening. Tak ada jawaban. Tak ada tanda kehidupan. Padahal biasanya ia selalu menunggu kepulanganku. Ah..mungkin istriku terlalu lelah, hingga ia tertidur begitu lelapnya.
Kurogoh saku kiri jaket tebalku meraih telepon genggam. Mencari nomor istriku lalu memanggilnya. Memanggil lagi. Dan lagi. Namun sama saja. Hanya nada terhubung tapi tak ada jawaban. Sudah tiga kali ketukan dan tiga kali panggilan, tapi tak ada sahutan dari dalam.
Aku jadi teringat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pulang kemalaman. Sementara istrinya ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tak kunjung menyambut Beliau. Hingga akhirnya Rasulullah tidur di depan pintu beralaskan kain sorbannya. Terimakasih Ya Allah, Engkau memberikan kesempatan yang sama bagiku. Allahumma shalli ‘ala Muhammad.
Segera kutanggalkan jaket tebalku, lalu kuhamparkan di teras depan pintu. Menyusul, kuringkukkan tubuh bagian kananku di atasnya, meletakkan kepalaku berbantal lengan kanan. Perlahan kupejamkan mata seraya memanjatkan do’a sebelum tidur.
“Allahumma aslamtu nafsii ilaiKa, wa wajahtu wajhii ilaiKa, wa fawadhtu amrii ilaiKa, walja`tu zhahrii ilaiKa, raghbatan wa rahbatan ilaiKa, laa maljaa`a wa laa manja minKa illaa ilaiKa, aamantu bikitaabiKal-ladzii anzalTa, wan-nabiyyiKal-ladzii arsalTa.”
Sebelum benar-benar terlelap, anganku terbawa pada keadaan yang sama seperti dialami Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku membayangkan Rasulullah yang tengah tertidur di teras depan pintu rumahnya. Rasa sesak mulai memadati seisi dadaku. Bukan karena amarah pada istriku yang tak kunjung membukakan pintu. Melainkan karena rasa iba dan haru pada keadaan Beliau saat itu.
Sekiranya aku ada di sana ketika itu, ingin rasanya kurelakan jaket tebal ini menjadi selimut untuk tubuh Beliau. Biarlah dinginnya malam menusuk tulangku, asalkan Beliau merasa hangat di balik jaket tebalku. Rasa sesak itu kian memadati tenggorokanku. Tak mampu lagi kutahan lelehan hangat yang mulai mengalir ke pelipis kananku. Hingga aku pun terlelap.
Dalam kelelapan itu aku bermimpi, seakan aku duduk tertunduk di hadapan Beliau shallallahu’alaihi wasallam yang sama-sama duduk iftirasy. Aku tak sanggup menatap wajah mulianya. Aku malu menampakkan wajahku yang masih jauh dari sunnah Beliau sepenuhnya. Namun sepintas aku melihat, Beliau mengenakan jaket tebalku. Aku senang tiada kepalang. Beliau bersedia memakainya, meski hanya sekadar mimpi.
Begitu senangnya hingga aku terisak haru di hadapannya dalam mimpi itu. Lalu kurasakan sebuah tangan menyentuh bahuku dan perlahan mengguncang-guncangkan tubuhku.
“Ayah..! Ayah..!” bisikan yang sangat kukenal suaranya.
“Ayah..! Ayah..! Kok tidur di sini, Yah?” bisikannya melemah. Namun cukup menyadarkan aku dari mimpi indah itu.
“Ayah, maafin Bunda. Bunda ketiduran..!” suara istriku mulai terdengar berat, sesenggukan. Seiring buliran mutiara menetes dari matanya.
“Bunda..! Kenapa nangis, Sayang?” sahutku terkejut seraya bangkit dari tempatku berbaring.
“Bunda takut Ayah marah. Maafin Bunda..” suaranya semakin berat, terisak isak. Seraya duduk bersimpuh dihadapanku.
Kulabuhkan kedua telapak tanganku di kedua pipinya. Mengangkat wajahnya yang tertunduk menahan tangis. Buliran hangat yang melintas di kedua pipinya kubasuh dengan kedua ibu jariku.
“Nggak apa-apa, Bunda nggak salah kok. Nggak perlu minta maaf..” ujarku mencoba menenangkannya.
“Tapi Bunda ngerasa salah..” jawab istriku. “Bunda udah nungguin Ayah, tapi malah ketiduran.” lanjutnya.
“Ya udah, nggak apa-apa. Kita masuk yuk, di luar dingin. Kasian nanti bayi kita kedinginan.” sahutku menghiburnya.
Kami pun masuk ke dalam rumah. Jam dinding menunjukkan pukul 00.50 WIB. Selepas kututup pintu dan menguncinya, tiba –tiba saja istriku melabuhkan tubuhnya ke dalam pelukanku melanjutkan isak tangisnya. Kudekap tubuhnya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku mengusap kepalanya yang bersandar di bahu kiriku.
“Kok nangis lagi..?” bisikku di telinga kirinya.
“Ayah nggak marah sama Bunda kan?”
“Nggak..! Ayah justru bersyukur. Dengan kejadian ini, Ayah ngerasain apa yang pernah dialami Rasulullah. Tidur di depan pintu rumah. Sampai-sampai Ayah mimpi ketemu Rasulullah. Makasih ya, Sayang..” jawabku seraya mendaratkan kecupan dikeningnya.
“Mimpi ketemu Rasul?” suara isaknya mulai berganti ketenangan.
"Iya, alhamdulillah..". Lalu aku pun menceritakan mimpi itu seraya memapahnya berjalan menuju kamar.
Ah..betapa indahnya malam itu. Malam yang takkan pernah bisa aku lupakan. Ingin rasanya aku mengulang malam itu. Duduk bersimpuh di hadapan Rasulullah meski hanya mimpi. Andai saja aku sempat menatap wajah Beliau dalam mimpiku. Yaa Rasulullah, Yaa Habiiballah, aku rindu padamu. Allahumma shalli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin.
~ Abu Lathifa
Tok, tok, tok! “Assalaamu’alaikum..” kuulang salam dan ketukan pada daun pintu. Berharap istriku masih terjaga dan segera menyahut salamku lalu membukakan pintu. Tapi tak ada jawaban dari istriku, wanita pilihan Allah yang sudah 4 bulan mengandung anak pertamaku.
Tok, tok, tok! “Assalaamu’alaikum..”. Hening. Tak ada jawaban. Tak ada tanda kehidupan. Padahal biasanya ia selalu menunggu kepulanganku. Ah..mungkin istriku terlalu lelah, hingga ia tertidur begitu lelapnya.
Kurogoh saku kiri jaket tebalku meraih telepon genggam. Mencari nomor istriku lalu memanggilnya. Memanggil lagi. Dan lagi. Namun sama saja. Hanya nada terhubung tapi tak ada jawaban. Sudah tiga kali ketukan dan tiga kali panggilan, tapi tak ada sahutan dari dalam.
Aku jadi teringat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pulang kemalaman. Sementara istrinya ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tak kunjung menyambut Beliau. Hingga akhirnya Rasulullah tidur di depan pintu beralaskan kain sorbannya. Terimakasih Ya Allah, Engkau memberikan kesempatan yang sama bagiku. Allahumma shalli ‘ala Muhammad.
Segera kutanggalkan jaket tebalku, lalu kuhamparkan di teras depan pintu. Menyusul, kuringkukkan tubuh bagian kananku di atasnya, meletakkan kepalaku berbantal lengan kanan. Perlahan kupejamkan mata seraya memanjatkan do’a sebelum tidur.
“Allahumma aslamtu nafsii ilaiKa, wa wajahtu wajhii ilaiKa, wa fawadhtu amrii ilaiKa, walja`tu zhahrii ilaiKa, raghbatan wa rahbatan ilaiKa, laa maljaa`a wa laa manja minKa illaa ilaiKa, aamantu bikitaabiKal-ladzii anzalTa, wan-nabiyyiKal-ladzii arsalTa.”
Sebelum benar-benar terlelap, anganku terbawa pada keadaan yang sama seperti dialami Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku membayangkan Rasulullah yang tengah tertidur di teras depan pintu rumahnya. Rasa sesak mulai memadati seisi dadaku. Bukan karena amarah pada istriku yang tak kunjung membukakan pintu. Melainkan karena rasa iba dan haru pada keadaan Beliau saat itu.
Sekiranya aku ada di sana ketika itu, ingin rasanya kurelakan jaket tebal ini menjadi selimut untuk tubuh Beliau. Biarlah dinginnya malam menusuk tulangku, asalkan Beliau merasa hangat di balik jaket tebalku. Rasa sesak itu kian memadati tenggorokanku. Tak mampu lagi kutahan lelehan hangat yang mulai mengalir ke pelipis kananku. Hingga aku pun terlelap.
Dalam kelelapan itu aku bermimpi, seakan aku duduk tertunduk di hadapan Beliau shallallahu’alaihi wasallam yang sama-sama duduk iftirasy. Aku tak sanggup menatap wajah mulianya. Aku malu menampakkan wajahku yang masih jauh dari sunnah Beliau sepenuhnya. Namun sepintas aku melihat, Beliau mengenakan jaket tebalku. Aku senang tiada kepalang. Beliau bersedia memakainya, meski hanya sekadar mimpi.
Begitu senangnya hingga aku terisak haru di hadapannya dalam mimpi itu. Lalu kurasakan sebuah tangan menyentuh bahuku dan perlahan mengguncang-guncangkan tubuhku.
“Ayah..! Ayah..!” bisikan yang sangat kukenal suaranya.
“Ayah..! Ayah..! Kok tidur di sini, Yah?” bisikannya melemah. Namun cukup menyadarkan aku dari mimpi indah itu.
“Ayah, maafin Bunda. Bunda ketiduran..!” suara istriku mulai terdengar berat, sesenggukan. Seiring buliran mutiara menetes dari matanya.
“Bunda..! Kenapa nangis, Sayang?” sahutku terkejut seraya bangkit dari tempatku berbaring.
“Bunda takut Ayah marah. Maafin Bunda..” suaranya semakin berat, terisak isak. Seraya duduk bersimpuh dihadapanku.
Kulabuhkan kedua telapak tanganku di kedua pipinya. Mengangkat wajahnya yang tertunduk menahan tangis. Buliran hangat yang melintas di kedua pipinya kubasuh dengan kedua ibu jariku.
“Nggak apa-apa, Bunda nggak salah kok. Nggak perlu minta maaf..” ujarku mencoba menenangkannya.
“Tapi Bunda ngerasa salah..” jawab istriku. “Bunda udah nungguin Ayah, tapi malah ketiduran.” lanjutnya.
“Ya udah, nggak apa-apa. Kita masuk yuk, di luar dingin. Kasian nanti bayi kita kedinginan.” sahutku menghiburnya.
Kami pun masuk ke dalam rumah. Jam dinding menunjukkan pukul 00.50 WIB. Selepas kututup pintu dan menguncinya, tiba –tiba saja istriku melabuhkan tubuhnya ke dalam pelukanku melanjutkan isak tangisnya. Kudekap tubuhnya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku mengusap kepalanya yang bersandar di bahu kiriku.
“Kok nangis lagi..?” bisikku di telinga kirinya.
“Ayah nggak marah sama Bunda kan?”
“Nggak..! Ayah justru bersyukur. Dengan kejadian ini, Ayah ngerasain apa yang pernah dialami Rasulullah. Tidur di depan pintu rumah. Sampai-sampai Ayah mimpi ketemu Rasulullah. Makasih ya, Sayang..” jawabku seraya mendaratkan kecupan dikeningnya.
“Mimpi ketemu Rasul?” suara isaknya mulai berganti ketenangan.
"Iya, alhamdulillah..". Lalu aku pun menceritakan mimpi itu seraya memapahnya berjalan menuju kamar.
Ah..betapa indahnya malam itu. Malam yang takkan pernah bisa aku lupakan. Ingin rasanya aku mengulang malam itu. Duduk bersimpuh di hadapan Rasulullah meski hanya mimpi. Andai saja aku sempat menatap wajah Beliau dalam mimpiku. Yaa Rasulullah, Yaa Habiiballah, aku rindu padamu. Allahumma shalli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin.
~ Abu Lathifa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar