Memberi nasihat adalah tugas orang tua kepada anaknya, guru terhadap
murid, senior pada juniornya, yang tua pada yang muda. Sekalipun bisa
saja berlaku kebalikannya.
Nasihat disampaikan atas dasar apa
yang dipercaya, tapi sayangnya banyak nasihat yang beredar di sekitar
kita berisi petuah yang kelihatannya benar tapi bisa menyesatkan jika
diterapkan secara buta.
Kalimat "Yang penting kaya jiwa daripada
kaya harta" atau "Tidak perlu kaya yang penting bahagia" sekilas
terkesan bijak, tapi bukankah nasihat ini mematikan kreativitas anak
manusia untuk sukses dan berdaya. Bukankah seseorang bisa kaya harta dan
kaya jiwa secara bersamaan, dan orang kaya juga bisa bahagia. Dalam
sejarah Islam, setiap muslim bisa melihat buktinya antara lain dari
peran Abu Bakar atau Abdurahman bin Auf dalam dakwah dengan menggunakan
harta mereka.
Bahkan Rasulullah yang sering digambarkan begitu
zuhud sebenarnya bukan tidak kaya, beliau memiliki akses keuangan yang
luar biasa. Akses ekonomi yang memungkinkan Nabi SAW memerintah negara
dan membiayai perang. Sang Nabi mungkin zuhud, tapi di saat bersamaan beliau mempunya kekuasaan ekonomi.
Nasihat lain yang mirip berbunyi, "Rezeki tidak kemana" atau "Memang Belum Rezeki"
Petuah
seperti ini berpotensi membuat mereka yang gagal dalam bisnis tidak
mengevaluasi kegagalannya, atau tidak menyelidiki kesalahannya dalam
menjalankan usaha. Mereka tidur nyenyak dan tidak merasa bersalah karena
yakin memang belum rezekinya.
Sekadar tidur nyenyak dan tanpa
perasaan bersalah masih lebih baik. Namun di sisi lain dengan mengatakan
belum rezeki saya, secara implisit bisa diartikan "saya gagal bisnis
karena Allah" atau Tuhan menjadi tersangka atas kesalahan yang kita
buat. Siapkah kita berhadapan dengan Allah jika selalu menyalahkan-Nya
atas kegagalan pribadi?
Nasihat serupa sering terdengar terkait fenomena jodoh. "Kalau jodoh nggak kemana" atau "Memang bukan jodoh".
Mencari
jodoh ada miripnya dengan upaya pemasaran. Bedanya yang kita promosikan
ketika mencari pasangan hidup adalah kualitas diri sendiri. Bagaimana
kita bisa meyakinkan calon pasangan bahwa kita adalah calon yang pantas.
Untuk
sebagian besar pria, mencari pasangan hidup berarti harus meyakinkan
calon bahwa mereka adalah figur pria bertanggung jawab, yang siap
melindungi keluarga, dan mampu mencukupi kebutuhan istri dan anak-anak.
Bagi
sebagian besar wanita, mencari pasangan hidup berarti harus meyakinkan
calon bahwa mereka akan menjadi istri yang bisa mendukung karier suami,
tidak menjadi beban, dan berpotensi sebagai ibu yang baik buat anak-anak
kelak.
Bedanya dengan marketing, mencari jodoh adalah proses menjual dan membeli dalam satu paket. Kita di satu sisi melakukan branding
atas diri sendiri, di sisi lain juga melihat dan menilai calon pasangan
apakah memenuhi kriteria. Jadi tentu saja proses mencari jodoh jauh
lebih rumit dari sekedar jual beli karena menyangkut komitmen dan
kebahagiaan seumur hidup.
Permasalahannya
adalah ketika setiap kali kita gagal mendapatkan jodoh, jika
mempercayai nasihat "jodoh tidak kemana" kita tidak akan mengevaluasi
dan memperbaiki diri, atau tidak merasa perlu menyesuaikan kriteria.
Menurut
saya, Allah menentukan jodoh yang tepat buat mukmin, tapi kita yang
memilih. Jika salah pilih itu bukan salah Allah, jika pilihannya tepat,
kita wajib mensyukurinya.
Banyak orang yang meninggal di usia tua
dalam keadaan lajang. Apakah Allah tidak memberikan jodoh untuk mereka?
Tentu saja bukan salah Allah. Coba evaluasi, seberapa kita menyiapkan
diri dan berikhtiar. Berapa banyak keputusan yang selama ini diambil
ketika seseorang mendekat, atau saat kita merasa ingin melakukan
pendekatan, namun kemudian bimbang atau mundur dengan berbagai alasan.
Setiap orang bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang dibuat, dan
setiap keputusan memiliki konsekuensi yang harus ditanggung.
Nasihat
lain yang juga sering sampai ke telinga kita adalah "Tuhan saja
memaafkan." seringkali ditujukan kepada pihak yang menjadi korban
kesalahan orang lain namun justru dituntut untuk memberi maaf, kalau
tidak maka justru terkesan salah.
Saya termasuk orang yang tidak
mudah memaafkan orang lain kecuali dia menyertai permintaan maaf dengan
komitmen untuk tidak mengulang kesalahan yang sama, atau setidaknya
berusaha tidak melakukan kesalahan serupa.
Jika Tuhan jadi
patokan, bahkan Tuhan yang maha pemaaf menyediakan tak hanya surga tapi
neraka. Itu sebabnya ada penjara dan aturan hukum dalam agama. Karena
kadang, untuk menyelesaikan suatu masalah maaf bukanlah jawabannya.
Sama-sama
berusaha cermat memilih nasihat yang berseliweran di sekitar agar kita
tidak melahap mutlak semua yang ditanamkan. Sebab jika kita tidak bijak
memahami nasihat, pada akhirnya kita juga yang menanggung akibat
buruknya.
sumber